By Suarez
Pada paruh musim ISL 2012/2013, Laskar Antasari berada di posisi ke-6. Perolehannya lebih baik dari dua tim asal Kalimantan lainnya, Persisam Putra Samarinda dan Persiba Balikpapan. Padahal, secara materi pemain, Barito Putera boleh dibilang tidak terlalu mentereng seperti pesaing lainnya.
Pelatih Barito Putera, Salahuddin, memang tidak melakukan perombakan besar, sejak membawa timnya menjadi kampiun Divisi Utama musim lalu. Beberapa pilar utama musim lalu, seperti Henry Njobi, Septariyanto, Sackie Teah Dou dan Nehemia Solossa, tetap menjadi poros permainan Barito.
Hebatnya, pemain baru yang direkrut Salahuddin, seakan meraih performa terbaiknya di bawah penanganan pelatih berkepala plontos ini, seperti Dedi Hartono, Yongky Aribowo dan Djibril Coulibaly.
“Kalau dilihat dari skuad saya, jelas bukan tim bertabur bintang. Tapi, saya punya filosopi sepakbola yang bisa membuat para pemain mampu tampil baik di lapangan. Prinsip dasar kekuatan Barito, adalah speed and power,” ungkap Salahuddin, saat ditemui dalam acara Evaluasi Paruh Musim ISL 2012/2013, Minggu (5/5).
Ya, speed and power, dua kata yang menjadi kunci sukses Barito Putera bersaing di jajaran atas ISL musim ini. Dalam menerapkan filosopinya ini, Salahuddin melakukan pendekatan pribadi, dari hati ke hati kepada anak asuhnya.
“Apa itu speed? Pokoknya pemain harus cepat dalam segala hal. Cepat mengambil keputusan, cepat bergerak, cepat berfikir. Untuk itu, mereka juga harus punya power, kekuatan untuk bisa mendukung semuanya berjalan baik. Dan, tentunya, dua hal ini dilakukan setelah mereka tahu dan sadar, apa yang menjadi tujuan mereka, sehingga memiliki visi yang jelas,” papar Salahuddin.
Poin penting bagi Salahuddin, setiap pemain harus bisa memahami, potensi, kemampuan, peran, dan apa yang harus dilakukan di posisi yang mereka mainkan. Rasa saling percaya juga menjadi unsure penting kesuksesan dalam permainan.
“Kita selalu komunikasi dari hati ke hati. Pemain harus menyadari, bahwa mereka dipilih, karena ada kepercayaan besar dari pelatih. Mereka harus sadar bahwa mereka adalah aktor, yang harus memerankan peran sesuai scenario meraih tujuan bersama,” tegas Salahuddin.
Di sisi lain, sebagai pelatih, Salahuddin juga mengaku harus mampu menjadi ‘aktor’. Ada kalanya ia harus menjadi abang, menjadi orang tua, menjadi bos, menjadi teman, sampai menjadi ulama bagi pemainnya.
Yang terakhir, adalah keputusannya merekrut Okto Maniani. Pelatih yang selalu memakai topi ini mengaku, banyak pihak yang menantang keputusannya merekrut Okto. Namun, ia punya alasan tersendiri.
“Setiap orang punya masa lalu. Saya akui banyak yang tidak setuju saya merekrut dia. Tapi, Okto adalah manusia, yang tentunya bisa berubah lebih baik. Saya sudah bicara dengan dia, saya bilang bahwa kamu punya potensi, dan saya percaya dengan kemampuannya. Lupakan masa lalu, tunjukkan bahwa Okto memang layak mendapat kepercayaan ini,” pungkas Salahuddin.
home
Home
Posting Komentar